Pertanyaan untuk Ditanyakan Selama Pengembangan Kurikulum Dalam lingkungan pendidikan, kurikulum adalah kata yang dapat menimbulkan berbagai jenis reaksi. Semua kurikulum memiliki tujuan yang sama yaitu dirancang untuk membantu siswa belajar. Bagaimana masing-masing sekolah menggunakan dan menerapkan kurikulum sangat berbeda dan unik, tergantung pada kebutuhan siswa, fakultas, staf, dan masyarakat di mana sekolah tersebut melayani. Terlepas dari lokasi atau pilihan kurikulum, pengembangan kurikulum sebenarnya merupakan bagian penting bagi keberhasilan setiap siswa di sekolah. Apa itu Pengembangan Kurikulum? Terlepas dari pengalaman mengajar Anda, pendidik tahu bahwa kurikulum yang efektif dan baik adalah komponen penting mutlak untuk memberikan pengajaran dan pendidikan yang sukses secara keseluruhan. Istilah “kurikulum” dapat berarti hal yang berbeda, tetapi terutama, bagi guru, kurikulum adalah keseluruhan rencana keseluruhan untuk kursus mereka, termasuk standar, tujuan pembelajaran, strategi pengajaran yang digunakan, penilaian, dan bahan. Untuk sekolah atau kabupaten, kurikulum dapat berarti pendekatan berbasis standar untuk proses pembelajaran secara keseluruhan. Misalnya, sebuah sekolah mungkin merupakan lembaga yang berfokus pada STEM atau STEAM, dengan kurikulum berdasarkan pembelajaran berbasis proyek atau berbasis masalah dengan desain pengalaman yang sarat dengan sains, teknik, dan matematika. Pendekatan ini akan menjadi kurikulum pembelajaran mereka dan akan mendorong jenis kursus yang dapat diambil siswa. Satu hal yang pasti tentang kurikulum dan perkembangan selanjutnya—tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua dalam hal lingkungan belajar. Pertanyaan untuk Ditanyakan Selama Proses Pengembangan Kurikulum Pengembangan kurikulum adalah proses multifaset, dengan proses yang tepat bervariasi dari satu sekolah atau sistem pendidikan ke yang berikutnya. Namun, pada intinya, kerangka pengembangan kurikulum mencakup analisis, pembangunan, implementasi, dan evaluasi. Selama proses ini, gagasan perbaikan terus-menerus perlu jelas. Tantangan kurikulum datang ketika ide-ide yang lelah dan usang menjadi stagnan. Sebagai pendidik, rencana pengajaran kita harus sering ditinjau, direvisi, dan diperbarui ketika kebutuhan baru dan berbeda muncul. Perubahan kurikulum seringkali diperlukan berdasarkan penemuan baru, inovasi dalam praktik terbaik, atau, seperti yang kita semua alami, pergeseran gaya belajar dari tatap muka ke jarak jauh ke instruksi hibrida selama pandemi. Untuk mempertahankan pengetahuan terkini dan terkini tentang pengembangan kurikulum, beberapa pertanyaan dapat diajukan untuk menjaga kesetiaan dan integritas kurikulum. Apa itu Struktur Kebijakan dan Pengawasan? Saat mengembangkan kurikulum, komponen kunci harus ditangani sebelum memulai. Pertama, apakah ada struktur pengambilan keputusan untuk menentukan apa yang tertulis, diajarkan, atau diuji? Hal ini dapat diselesaikan dengan membentuk komite kurikulum di mana visi kurikulum terbentuk, yang dapat mencakup tujuan yang jelas dan komitmen tertulis untuk memandu pengembangan kurikulum. Akhirnya, bagian kebijakan dan perencanaan sangat penting, di mana kebijakan tertulis yang memastikan akses semua siswa ke sumber daya jelas, bersama dengan rencana komunikasi tentang bagaimana kurikulum akan diajarkan, dan perubahan apa pun di masa depan. Apakah Ada Aksesibilitas dan Dukungan? Mengembangkan kurikulum tidak berhenti setelah komponen dibuat. Agar pengembangan kurikulum dapat dimanfaatkan secara maksimal, aksesibilitas dan dukungan harus jelas, termasuk rencana kesetaraan, inventarisasi dan penilaian kebutuhan, rencana peluncuran, pengembangan profesional awal, dan dukungan berkelanjutan. Bisakah Semua Siswa Menggunakan Kurikulum? Bagian yang paling penting untuk kurikulum apapun adalah kedalaman dan ruang lingkup dampak untuk semua siswa. Secara khusus, kurikulum harus membahas dan memperjelas apa yang harus diketahui dan dapat dilakukan oleh setiap siswa berdasarkan kemampuan mereka. Pengajaran yang paling sukses datang dari hasil belajar yang didefinisikan dengan jelas dan bukti selanjutnya bahwa pembelajaran telah terjadi. Apakah Sesuai dengan Standar Negara? Kurikulum yang sukses lebih dari sekadar memanfaatkan buku teks, yang dengan sendirinya bisa ketinggalan zaman. Kurikulum sekolah harus ketat dan selaras dengan standar negara bagian, dengan berbagai bentuk modalitas dan strategi pembelajaran yang ada. Kurikulum harus menginspirasi pembelajaran yang menarik dengan mempertanyakan, menganalisis, mensintesis, dan tingkat pengetahuan dan pemahaman yang lebih dalam. Seberapa Relatif dan Terkini Kurikulumnya? Kurikulum yang hebat mengikuti dunia yang terus berubah dan tidak pernah merupakan inisiatif yang selesai. Merevisi kurikulum secara teratur memungkinkan peninjauan dan penambahan topik baru yang terkini dan relevan. Kurikulum dapat memainkan peran penting dalam memungkinkan pendidik untuk mengikuti tren yang terus berkembang dalam pendidikan dan kebutuhan siswa, termasuk teknologi dan keahlian baru yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global. Apakah Ini Beragam dan Inklusif untuk Semua Siswa? Untuk pendidik yang melayani kaum muda, pertanyaan seputar perspektif dan pengalaman harus berperan dalam memilih atau mengembangkan kurikulum, termasuk penggunaan sumber daya luar atau membuat sendiri. Keragaman perspektif yang terwakili dalam kurikulum penting memberikan siswa pandangan penuh tentang sejarah dan memberi mereka akses penting ke pengalaman inklusif dan beragam yang dapat berdampak positif bagi mereka di hampir setiap aspek perkembangan mereka. Kurikulum yang inklusif dan beragam dapat memberdayakan siswa yang kurang terwakili, memungkinkan mereka untuk mengalami kepercayaan diri yang tinggi, yang pasti mengarah pada lebih banyak peluang di masa depan. Selain itu, siswa yang terpapar keragaman di kelas atau kurikulum berpotensi menunjukkan lebih sedikit prasangka rasial, sehingga mengurangi stereotip rasial dan mendorong pemahaman lintas ras. Mengembangkan dan menerapkan kurikulum yang tepat di sekolah Anda dapat memberikan pertanyaan dan hasil yang positif baik bagi siswa maupun guru. Menikmati dan berkembang dalam kurikulum yang dipikirkan, diteliti, dianalisis, dan dievaluasi terus-menerus dapat menyebabkan perubahan besar dalam budaya dan iklim sekolah, sambil mempersiapkan siswa untuk masyarakat yang selalu berubah. Sebagai pemimpin pendidikan, kami ditugasi untuk menyediakan proses dan struktur yang tepat bagi sekolah kami untuk memastikan kami menerapkan jalur instruksional yang paling efektif. Kurikulum yang tepat dapat memastikan bahwa siswa saat ini dilengkapi dengan alat yang tepat untuk sukses.
Unsurunsur intrinsik drama terdiri dari dialog, plot atau alur cerita, tokoh, latar, tema, dan amanat. Berikut ini penjelasan mengenai unsur-unsur intrinsik drama, sebagaimana dikutip dari buku Bahasa Indonesia (2007) yang ditulis Agus Supriatna, dan sumber lain. 1. Dialog Dialog adalah inti dari karya drama.JAWABANI. Evaluasi Pendidikan mempunyai fungsi yang bervariasi di dalam proses belajar mengajar, tulislah Tes 1. Fungsi Untuk KelasØ Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa. Diagnosis yang sebenarnya terhadap kesulitan belajar dilakukan dengan metode uji standar yang membandingkan tingkatan kemampuan seorang anak terhadap anak lainnya yang dianggap normal. Hasil uji tidak hanya tergantung pada kemampuan aktual anak, tetapi juga reliabilitas pengujian itu serta kemampuan sang anak untuk memerhatikan dan memahami pertanyaannya. Masing-masing tipe LD Learning Disorder / Gangguan belajar didiagnosis dengan cara yang sedikit berbeda. Untuk mendiagnosis kesulitan berbicara dan berbahasa, ahli terapi wicara menguji cara pelafalan bunyi bahasa anak-anak, kosakata, dan pengetahuan tata bahasa serta membandingkannya dengan kemampuan anak sebaya mereka yang normal. Sehubungan dengan gangguan kemampuan atau perkembangan akademis yang mencakup membaca, menulis, dan matematika, maka pengujiannya dilakukan dengan metode uji standar. Kita perlu memperhatikan bahwa penanganan gangguan belajar itu sangatlah berbeda dengan upaya mengejar ketertinggalan pelajaran di Mengevaluasi celah antara bakat dengan pencapaian. Celah antara Bakat dan pencapaian yang dimiliki siswa akan terlihat melalui tes. Jika Hasil tes yang diperoleh tinggi, hal ini menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki bakat dibidang tersebut. Sehingga celah antara bakat dan pencapaian akan terlihat tipis atau Menaikkan tingkat prestasiDengan melakukan tes, akan meningkatkan prestasi siswa. Karena dengan adanya tes, setiap siswa akan dituntut untuk belajar lebih dalam supaya memperoleh hasil yang bagus. Disamping itu menjadi pendorong untuk berprestasi karena bersaing dengan siswa Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode kelompokTes bisa digunakan untuk mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu pelaksanaan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak merasa memiliki kemampuan lebih rendah dari siswa lain yang menyebabkan rendah diri. Dalam memberikan pembelajaranpun lebih mudah karena siswa dikelompokkan sesuai dengan keseragaman kemampuan yang dilihat dari hasil tes. Ø Merencanakan kegiatan proses belajar mengajar untuk siswa secara hasil tes yang diperoleh siswa memungkinkan untuk merencanakan kegiatan proses belajar mengajar secara perorangan. Topik atau materi yang belum dikuasai oleh siswa antara siswa yang satu dengan yang lain tidak sama, hal ini menjadikan pembelajaran secara perorangan lebih Menetukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khususBimbingan Khusus bisa dilakukan dengan melihat hasil tes yang diperoleh siswa. Siswa yang memiliki nilai dibawah KKM memerlukan bimbingan khusus agar bisa menyesuaiakn ketertinggalan dengan siswa lain di kelas. Siswa yang sudah memperoleh hasil bagus atau di atas KKM juga perlu mendapatkan bimbingan khusus dalam pembelajaran dalam bentuk pengayaan. Hal ini sangat penting agar siswa tidak hanya berhenti belajar pada pencapaian kompetensi tersebut, akan tetapi terus mengembangkan kemampuannya secara Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anakTingkat pencapaian belajar pada anak diperoleh melalui proses tes. Siswa yang memperoleh hasil tes baik artinya sudah menunjukkan pencapaian dalam belajar. Namun siswa yang memperoleh hasil belajar kurang baik menunjukkan pencapaian belajarnya belum tuntas dan perlu diperbaiki untuk kebaikan diwaktu Fungsi Untuk BimbinganØ Menentukan arah pembicaraan dengan orang tua tentang anak merekaArah pembicaraan antara orang tua dengan pendidika mengenai anak mereka mengacu pada hasil tes belajar yang diperoleh siswa. Ini merupakan fungsi tes sebagai bimbingan, baik yang memiliki hasil tes yang sudah bagus ataupun yang masih kurang bagus. Ø Membantu siswa dalam menentukan pilihanPilihan siswa yang dilakukan berdasarkan hasil tes yang diperoleh. Dalam melakukan pilihan siswa mampu mengukur kemampuan diri, bukan hanya mengedepankan keinginan saja tanpa diimbangi dengan kemampuan. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu memperoleh pembelajaran yang lebih baik. Dan tidak salah Membantu siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusanFungsi tes sebagai bimbingan juga dapat digunakan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan dan pemilihan jurusan yang sesuai dengan bidang yang diminat dan kemampuan yang dimiliki. Tujuan merupakan langkah awal ketika seseorang akan melakukan sesuatu. Ini menjadi sangat penting dalam proses pencapaiannya. Ø Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru, dan orang tua dalam memahami kesulitan anak3. Fungsi Untuk AdminitrasiØ Memberi petunjuk dalam mengelompokkan siswa Siswa dikelompokkan berdasarkan hasil pencapaian tes yang diperoleh. Sebagai penempatan dalam pembagian kelas yang memberikan petunjuk sebagai Penempatan siswa baru Penempatan siswa baru juga berdasarkan hasil tes yang salah satu kebijakan yang diambil oleh sebuah organisasi dalam rangka mengelola sistem pengadministrasian lebih Membantu siswa memilih kelompokStategi siswa dalam memilih kelompok, bisa dengan menggunakan hasil tes. Adapun strategi yang diterapkan bisa dengan menggabungkan antara siswa yang memiliki kemampuan lebih dengan yang kurang agar menjadi tutor sebaya. Atau bisa dengan menggunakan hasil tes yang homgen/ Menilai kurikulum. Evaluasi dapat memberikan penilaian terhadap kurikulum dan memberikan informasi untuk mengembangkan program Memperluas hubungan masyarakatØ Menyediakan informasi untuk badan-badan lainII. Jelaskan makna dari evaluasi, tes, pengukuran, dan asesmen serta apa hubungannya satu dengan yang Makna EvaluasiMenurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran John M. Echols dan Hasan Shadily 1983. Stufflebeam, dkk 1971 mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan. Sementara evaluasi menurut Kumano 2001 merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan asesmen. Sementara itu menurut Calongesi 1995 evaluasi adalah suatu keputusan tentang nilai berdasarkan hasil pengukuran. Sejalan dengan pengertian tersebut, Zainul dan Nasution 2001 menyatakan bahwa evaluasi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes. Pendapat senada tentang evaluasi dungkapkan oleh Sridadi 2007 yaitu evaluasi adalah suatu proses yang dirancang secara sistematis dan terencana dalam rangka untuk membuat alternatif-alternatif keputusan atas dasar pengukuran dan penilaian yang telah dilakukan sebelumnya. Allen Philips 1979 1-2 evaluation is a complex term that often is misused by both teachers and students. It involves making decicions or judgements about students based on the extent to which instructional objectives are achieved by 7 them. Evaluasi adalah istilah yang kompleks yang sering disalahgunakan oleh para guru dan siswa. evaluasi melibatkan pembuatan keputusan atau penilaian tentang siswa berdasarkan sejauh mana tujuan instruksional yang dicapai oleh mereka Secara garis besar dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah pemberian nilai terhadap kualitas sesuatu. Selain dari itu, evaluasi juga dapat dipandang sebagai proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Cronbach dalam Harris, 1985 menyatakan bahwa evaluasi merupakan pemeriksaan yang sistematis terhadap segala peristiwa yang terjadi sebagai akibat dilaksanakannya suatu program. Tayibnapis 2000 dalam hal ini lebih meninjau pengertian evaluasi program dalam konteks tujuan yaitu sebagai proses menilai sampai sejauhmana tujuan pendidikan dapat dicapai. Berdasarkan tujuannya, terdapat pengertian evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dinyatakan sebagai upaya untuk memperoleh feedback perbaikan program, sementara itu evaluasi sumatif merupakan upaya menilai manfaat program dan mengambil keputusan Lehman, 1990. b. Makna Tes Tes adalah suatu pertanyaan atau tugas/seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait/atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar Ebel dan Frisbie 1996; Sax 1980; Lehmann 1973; Zainul 1995. Menurut Riduwan 2006 37 tes sebagai instrumen pengumpulan data adalah serangkaian pertanyaan/latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu/kelompok. Menurut 1979 1-2 “A test is commonly difined as a tool or instrument of measurement that is used to obtain data about a specific trait or characteristic of an individual or group”. Test biasanya diartikan sebagai alat atau instrumen dari pengukuran yang digunakan untuk memperoleh data tentang suatu karakteristik atau ciri yang spesifik dari individu atau kelompok. pengertian lain tentang tes test adalah suatu alat penilaian dalam bentuk tulisan untuk mencatat atau mengamati prestasi siswa yang sejalan dengan target penilaian Jacobs & Chase, 1992. Jawaban yang diharapkan dalam tes menurut Sudjana dan Ibrahim 2001 dapat secara tertulis, lisan, atau perbuatan. Setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar. Dengan demikian apabila suatu tugas atau pertanyaan menuntut harus dikerjakan oleh seseorang, tetapi tidak ada jawaban atau cara pengerjaan yang benar dan salah maka tugas atau pertanyaan tersebut bukanlah tes. Berkaitan dengan dengan tes terdapat beberapa istilah harus dibedakan pengertiannya yaitu antara tes, testing, testee, tester. Testing berkaitan dengan waktu pelaksanaan tes saat pelaksanaan tes. Sementara itu Gabel 1993 menyatakan bahwa testing menunjukkan proses pelaksanaan tes. Testee adalah responden yang mengerjakan tes. Mereka inilah yang akan dinilai atau diukur kemampuannya. Sedangkan Tester adalah seseorang yang diserahi tugas untuk melaksanakan tes kepada responden. Dewasa ini tes masih merupakan alat evaluasi yang umum digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran Subekti & Firman, 1989. Menurut Faisal 1982219, seringkali skor tes ini dipergunakan sebagai satu-satunya indikator dalam menilai penguasaan konsep, efektivitas metode belajar serta aspek lainnya terhadap siswa di dalam praktek pembelajaran. Padahal jika merujuk pada taksonomi Bloom saja terdapat paling tidak tiga aspek yang harus diukur dalam peleksanaan pembelajaran yaitu kognitif, afektif dan psikomotor, ketiga aspek tersebut tidak mungkin dapat diukur hanya dengan tes yang pada umumnya hanya bersifat paper and pencil test. Tes dapat dipilah-pilah ke dalam berbagai kelompok. Berdasarkan bentuknya dikenal adanya tes uraian essay test dan tes objektif objective test. Tes Uraian berdasarkan tipenya dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni tes uraian terbatas restricted essay test dan tes uraian bebas extended essay test. Tes objektif, berdasarkan tipenya dapat dikelompokkan menjadi 3, yakni tes benar salah true-false test, tes menjodohkan mathcing test, dan tes pilihan ganda multiple choice test. Beberapa tipe tes tersebut masih dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa jenis tes berdasarkan ragam dan karakternya. Tes berdasarkan cara melakukannya juga dapat dipilih menjadi tes tertulis, tes lisan, dan tes Makna Pengukuran Menurut Philips 1979 1-2 “a measure is the score that has been assigned on the basis of a test”. Pengukuran adalah skor yang telah ditetapkan atas dasar suatu tes. Sejala denngan pendapat Philips tersebut, Kerlinger yang dikutip Sridadi 2007 juga mengatakan bahwapengukuransebagai pemberian angka-angka pada obyek atau kejadian-kejadian menurut suatu aturan tertentu. Sementara menurut Cangelosi 1995 yang dimaksud dengan pengukuran Measurement adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Berkaitan dengan pengukuran prestasi belajar siswa, guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan bagaimana mereka menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan. Menurut Zainul dan Nasution 2001 pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu 1 penggunaan angka atau skala tertentu; 2 menurut suatu aturan atau formula tertentu. Measurement pengukuran merupakan proses yang mendeskripsikan performance siswa dengan menggunakan suatu skala kuantitatif sistem angka sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari performance siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka Alwasilah et Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat yang menyatakan bahwa pengukuran merupakan pemberian angka terhadap suatu atribut atau karakter tertentu yang dimiliki oleh seseorang, atau suatu obyek tertentu yang mengacu pada aturan dan formulasi yang jelas. Aturan atau formulasi tersebut harus disepakati secara umum oleh para ahli Zainul & Nasution, 2001. Dengan demikian, pengukuran dalam bidang pendidikan berarti mengukur atribut atau karakteristik peserta didik tertentu. Dalam hal ini yang diukur bukan peserta didik tersebut, akan tetapi karakteristik atau atributnya. Senada dengan pendapat tersebut, Secara lebih ringkas, Arikunto dan Jabar 2004 menyatakan pengertian pengukuran measurement sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif. Pengukuran measurement dapat dilakukan dengan cara tes atau non-tes. Amalia 2003 mengungkapkan bahwa tes terdiri atas tes tertulis paper and pencil test dan tes lisan. Sementara itu alat ukur non-tes terdiri atas pengumpulan kerja siswa portofolio, hasil karya siswa produk, penugasan proyek, dan kinerja performance. d. Makna Asesmen Asesmen assessment diartikan oleh Stiggins 1994 sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa outcomes. Sementara itu asesmen menurut Kumano 2001 adalah “The process of Collecting data which shows the development of learning”, asesmen adalah proses pengumpulan data untuk melihat perkembangan belajar. Pendapat lain tentang asesmen dalam kelas dikemukakan oleh Angelo 1991 5 17 „Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught”. Penilaian kelas merupakan metode sederhana yang dapat digunakan fakultas untuk mengumpulkan umpan balik, sejak awal dan sering, untuk mengetahui seberapa baik siswa mereka belajar apa yang mereka diajarkan. Gabel 1993 388-390 mengkategorikan asesmen ke dalam kedua kelompok besar yaitu asesmen tradisional dan asesmen alternatif. Asesmen yang tergolong tradisional adalah tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong ke dalam asesmen alternatif non- tes adalah essay/uraian, penilaian praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar Cek, penilaian oleh teman sebaya/sejawat, penilaian diri self assessment, portofolio, observasi, diskusi dan interviu wawancara. Asesmen dalam pelaksanaannya dapat digunakan sebagai sarana untuk memonitor perkembangan belajar siswa, sebagainama yang ungkapkan oleh Wiggins 1984 bahwa asesmen merupakan sarana yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh karena itu, menurut Popham 1995 asesmen sudah seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal yang terpisahkan. Asesmen pada hakikatnya menitikberatkan pada penilaian proses belajar siswa Resnick ,1985. Berkaitan dengan hal tersebut, Marzano et al. 1994 menyatakan bahwa dalam mengungkap penguasaan konsep siswa, asesmen tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai, akan tetapi juga tentang proses perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan tetapi juga kemajuan belajarnya. e. Hubungan Evaluasi , tes, pengukuran dan 2003 mengungkapkan bahwa asesmen lebih ditekankan pada penilaian proses. Sementara itu evaluasi lebih ditekankan pada hasil belajar. Apabila dilihat dari keberpihakannya, menurut Stiggins 1993 asesmen lebih berpihak kepada kepentingan siswa. Siswa dalam hal ini menggunakan hasil asesmen untuk merefleksikan kekuatan, kelemahan, dan perbaikan belajar. Sementara itu evaluasi menurut Rustaman 2003 lebih berpihak kepada kepentingan evaluator. Yulaelawati 2004 mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara evaluasi dengan asesmen. Evaluasi evaluation merupakan penilaian program pendidikan secara menyeluruh. Evaluasi pendidikan lebih bersifat makro, meluas, dan menyeluruh. Evaluasi program menelaah komponen-komponen yang saling berkaitan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan. Sementara itu asesmen merupakan penilaian dalam scope yang lebih sempit lebih mikro bila dibandingkan dengan evaluasi. Seperti dikemukakan oleh Kumano 2001 asesmen hanya menyangkut kompetensi siswa dan perbaikan program Harlen 1982 mengungkapkan perbedaan antara asesmen dan evaluasi dalam hal metode. Evaluasi dinyatakan menggunakan kriteria dan metode yang bervariasi. Asesmen dalam hal ini hanya merupakan salah satu dari metode yang dipilih untuk evaluasi tersebut. Selain dari itu, subyek untuk asesmen hanya siswa, sementara itu subyek evaluasi lebih luas dan beragam seperti siswa, guru, materi, organisasi, dll. Pengukuran, Tes, dan evaluasi dalam pendidikan berperan dalam seleksi, penempatan, diagnosa, remedial, umpan balik, memotivasi dan membimbing. Baik tes maupun pengukuran keduanya terkait dan menjadi bagian istilah evaluasi. Meski begitu, terdapat perbedaan makna antara mengukur dan mengevaluasi. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran tertentu. Dengan demikian pengukuran bersifat kuantitatif. Sementara itu evaluasi adalah pengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk Dengan demikian pengambilan keputusan tersebut lebih bersifat kualitatif Arikunto,2003; Zainul & Nasution, 2001. Setiap butir pertanyaan atau tugas dalam tes harus selalu direncanakan dan mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar Jacobs & Chase, 1992. Sementara itu tugas ataupun pertanyaan dalam kegiatan pengukuran measurement tidak selalu memiliki jawaban atau cara pengerjaan yang benar atau salah karena measurement dapat dilakukan melalui alat ukur non-tes. Maka tugas atau pertanyaan tersebut bukanlah tes. Selain dari itu, tes mengharuskan subyek untuk menjawab atau mengerjakan tugas, sementara itu pengukuran measurement tidak selalu menuntut jawaban atau pengerjaan tugas. Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Penilaian bersifat kualitatif. Yulaelawati 2004 menekankan kembali bahwa scope asesmen hanya mencakup kompetensi lulusan dan perbaikan cara belajar siswa. Jadi hubungannya lebih pada peserta didik. Ruang lingkup evaluasi yang lebih luas ditunjukkan dengan cakupannya yang meliputi isi atau substansi, proses pelaksanaan9 program pendidikan, kompetensi lulusan, pengadaan dan peningkatan tenaga kependidikan, manajemen pendidikan, sarana dan prasarana, dan pembiayaan. Kumano 2001 mengungkapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan makna/pengertian, asesmen dan evaluasi memiliki hubungan. Hubungan antara asesmen dan evaluasi tersebut digambarkan sebagai berikut. Evaluation “to evaluate the data which was collected through assessment” Assessmen “the process of collecting data which shows the development of learning” Aikenhead, Kumano 2001. Menurut Zainul & Nasution 2001 Hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi adalah sebagai berikut. Evaluasi belajar baru dapat dilakukan dengan baik dan benar apabila menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran yang menggunakan tes sebagai alat ukurnya. Akan tetapi tentu saja tes hanya merupakan salah satu alat ukur yang dapat digunakan karena informasi tentang hasil belajar tersebut dapat pula diperoleh tidak melalui tes, misalnya menggunakan alat ukur non tes seperti observasi, skala rating, dan lain-lain. Zainul dan Nasution 2001 menyatakan bahwa guru mengukur berbagai kemampuan siswa. Apabila guru melangkah lebih jauh dalam menginterpretasikan skor sebagai hasil pengukuran tersebut dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai atas dasar pertimbangan tertentu, maka kegiatan guru tersebut telah melangkah lebih jauh menjadi Bagaimana memberikan pengertian tentang Obyek Penilaian Pendidikan dan unsur apa yang terdapat Pengertian Objek PenilaianObjek penilaian evaluasi Yaitu segala sesuatu yang menjadi titik pusat pengamatan karena penilai menginginkan informasi tentang sesuatu. Biasa disebut juga dengan sasaran Penilaian Pendidikan 1. Aspek Kognitif Misalnya, kemampuan calon peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan sebagai taruna Akademi Angkatan Laut tentu harus dibedakan dengan kemampuan calon peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan pada sebuah perguruan tinggi agama Aspek Afektif Sikap, pada dasarnya adalah merupakan bagian dari tingkah laku manusia, sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memencar keluar3. Aspek Psikomotor Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri seseorang, yang menampakkan bentuknya dari tingkah lakunya. B. Unsur-unsur Objek Penilaian Pendidikan1 InputCalon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari beberapa segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. 2 KemampuanUntuk dapat mengikuti program dalam suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon siswa harus memiliki kemampuan yang sepadan. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan ini disebut tes kemampuan atau attitude KepribadianKepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut tes kepribadian atau pesonality SikapSikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Sikapi merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka banyak orang yang menginginkan informasi khusus tentangnya. Alat untuk mengukur keadaan sikap seseorang dinamakan tes sikap atau attitude test. Oleh karena tes ini berupa skala, maka lalu disebut skala sikap atau attitude IntelegensiUntuk mengetahui tingkat inteligensi digunakan tes inteligensi di kenal dengan nama tes Binet-Simon. Tes-tes yang lain misalnya SPM, Tintum, dan sebagainya. Dari hasil tes akan diketahui IQ Intelligence Quotient, tingkat intelektual siswa yang Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian antara laina Kurikulum/materib Metode dan cara penilaianc Sarana pendidikan/mediad Sistem administrasie Guru dan personal lainnyaIV. Jelaskan,Langkah yang harus dilakukan bagi seorang guru dalam proses pengembangan alat evaluasi agar diperoleh instrumen yang valid dan reliable!Langkah yang harus dilakukan bagi seorang guru dalam proses pengembangan alat evaluasi agar diperoleh instrumen yang valid dan reliable yakni a. Tahapan persiapan,Pada tahapan ini bahan-bahan yang diperlukan untuk menyusun alat evaluasi dihimpun, bahan-bahan tersebut meliputi 1 Tujuan Pengajaran. Yakni bentuk perilaku yang akan dievaluasi. Bila evaluasi dilakukan secara formatif tujuan pengajaran di samping untuk kepentingan evaluasi, juga dalam rangka pengembangan sistem pengajaran system instructional. Bila evaluasi dilakukan sebagai evaluasi sumatif atau untuk kepentingan diagnostik maupun penempatan, maka perumusan tujuan disesuaikan dengan maksud tertentu. Dalam perumusan tujuan perlu diperhatikan aspek yang akan diukur berdasarkan klasifikasi taxonomi Menentukan ruang lingkup dan urutan bahan berpedoman pada kisi-kisi yang dibuat. Dalam hal ini perlu diperhatikan pula penggunaan sumber bahan yang representatif, sehingga dalam mengambil sample bahan yang akan dievaluasikan betul-betul mencerminkan tentang berbagai aspek yang akan diukur. Hal ini terutama sekali berlaku bila bukan evaluasi formatif yang akan Menuliskan butir-butir soal dengan bentuk sebagaimana direncanakan dan dibuat dalam Bila evaluasi dilaksanakan selain untuk kepentingan evaluasi formatif, soal yang dibuat perlu diuji coba terlebih dahulu sebelum diperbanyak sesuai dengan Tahapan pelaksanaanEvaluasi formatif dilaksanakan setiap kali dilakukan pengajaran terhadap satu unit pelajaran tertentu. Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program, apakah semester atau kelas terakhir Evaluasi Belajar Tahap Akhir termasuk pula evaluasi sumatif. Evaluasi diagnostik dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. Jadi, dalam Melaksanakan kegiatan evaluasi harus disesuaikan dengan maksud tertentu. c. Tahap pemeriksaanPenentuan dan pengolahan angka atau skor. Dalam memeriksa pekerjaan hasil evaluasi seharusnya digunakan kunci jawaban, baik untuk evaluasi dengan test essay ataupun t6es obyektif. Hal ini disamping untuk mempermudah pemeriksaan juga untuk menghindari unsur subyektif dalam memberikan yang diperoleh dari hasil pemeriksaan masih dalam bentuk angka mentah. Agar kita memperoleh angka masak angka terjabar perlu dilakukan pengolahan dengan menggunakan aturan-aturan tertentu. Untuk menghasilkan angka terjabar ini dasar penentuan angka disesuaikan dengan acuan yang digunakan, apakah aduan petokan ataukah acuan Observasi sebagai alat penilain nontes, mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Tulislah selengkapnya dan mengapa demikian ?Observasi merupakan suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenati berbagai fenomena yang bertujuan untuk mengumpulkan data atau informasi dan mengukur factor-faktor yang diamati khususnya kecakapan social. Berikut ini beberapa karakteristik dari observasi, yaitu1. Mempunyai tujuan2. Bersifat ilmiah3. Terdapat aspek yang diamati4. PraktisSedangkan secara lebih lanjut, terdapat tiga jenis observasi, yaitu1. Observasi partisipan, dimana pengamat ikut andil dalam kegiatan kelompok yang sedang Observasi sistematik merupakan observasi dengan menggunakan kerangka yang berisi faktor-faktor yang ingin diteliti yang telah dikategorikan terlebih dahulu secara Observasi Eksperimental meupakan observasi dimana pengamat tidak berpartisipasi dalam kelompok yang diamati namun dapat mengendalikanunsur-unsur tertentu sehingga tercipta tujuan yang sesuai dengan tujuan observasi. Observasi jenis ini memungkinkan evaluator untuk mengamati sifat-sifat tertentu dengan langkah-langkah penyusunan pedoman observasi adalah1. Merumuskan tujuan observasi2. Membuat kisi-kisi observasi3. Menyusun pedoman observasi4. Menyusun aspek-aspek yang ingin diobservasi5. Melakukan uji coba pedoman observasi6. Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba7. Melaksanakan observasi8. Mengolah dan menafsirkan hasil observasiSama halnya dengan instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa kelemahan dan kelebihan yaituKelemahanØ Pelaksanaannya sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari observer maupun Masalah yang sifatnya pribadi sulit Apabila memakan waktu lama, akan menimbulkan Observasi cocok dilakukan untuk berbagai macam Observasi cocok untuk mengamati Banyak aspek yang tidak dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan Pustaka Anas Sudijono. 2005. Evaluasi Pendidikan. Jakarta Raja Grafindo. PertemuanPertama. Setelah mengikuti serangkaian pembelajaran tentang buku fiksi dan nonfiksi,peserta didik diharapkan dapat: 1. Menentukan unsur-unsur buku fiksi tepat. 2. Menentukan unsur-unsur buku nonfiksi dengan tepat. 3. Memiliki karakter religius, tanggung jawab, mandiri, dan santun.
PengertianProsa. Prosa adalah karangan bebas yang dapat berupa cerita atau kisah berplot hingga ke pembahasan suatu gagasan atau pertanyaan yang berasal dari cerminan kenyataan dan atau dari informasi dan data yang sesungguhnya berdasarkan fakta ilmiah. Dapat dikatakan pula bahwa sederhananya, prosa adalah genre lain dari sastra selain puisi
Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan analisis yang jelas dan sistematis ! 1. Jelaskan makna dari sifat hakikat manusia ? 2. Jelaskan wujud dari sifat hakikat manusia ? 3. Jelaskan berbagai pandangan tentang sifat hakikat manusia ? 4. Jelaskan berbagai sudut pandang manusia dalam pengertiannya sebagai makluk hidup ? 9 BAB II UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN A. PENDAHULUAN Pendidikan seperti sifat sasrannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks, karena sifat nya yang kompleks itu, maka tdak sebuah batasan pun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan tentang pendidikan yang dibuat para ahli beraneka ragam dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasa yang digunakan, asspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinnya. Pendidikan juga dikatakan penting karena pendidikan itu adalah hal yang diajarkan secara turun-temurun dari dulu. Sejak kita lahirpun, orang tua kita pasti sudah memberikan pendidikan tentang berbagai hal. Pendidikan itu dapat diperoleh melalui berbagai cara, misalnya melalui perkataan atau tingkah laku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, pendidikan juga dapat diperoleh dari sumber-sumber tertentu seperti buku dan lain-lain. Pendidikan yang diterima dan diajarkan ke setiap orang itu berbeda-beda tergantung sifat dan kebutuhan. Oleh karena itu, setiap pendidikan yang diterima oleh orang yang satu dengan orang yang lainnya tidak selalu sama. Pendidikan sangat diperlukan agar setiap generasi penerus bangsa menjadi manusia yang memiliki bekal masa depan yang cerah. Hal ini dikarenakan pendidikan yang dimiliki setiap orang bisa mengarahkan bagaimana masa depan orang itu nantinya. Pendidikan itu sangat diperlukan, oleh karena itu pendidikan tidak dapat terlepas begitu saja dari kehidupan manusia. Setiap proses pendidikan, tidak mungkin berjalan begitu saja tanpa ada unsur-unsur yang mendukung di dalamnya. Proses pendidikan ini pasti melibatkan banyak hal yang disebut unsur-unsur pendidikan. Agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik dan terarah sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan, perlu kita ketahui apa saja yang termasuk unsur-unsur pendidikan B. PENYAJIAN 1. Unsur-unsur Pendidikan a. Subjek yang dibimbing peserta didik Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang 10 tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran. Peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan. Dalam bahasa Arab, peserta didik dikenal dengan istilah tilmidz sering digunakan untuk menunjukkan peserta didik tingkat sekolah dasar dan thalib al-alim orang yang menuntut ilmu dan biasa digunakan untuk tingkat yang lebih tinggi seperti Sekolah Lanjutan Pertama dan Atas serta Perguruan Tinggi. Hakekat Paserta Didik Peserta didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri. Peserta didik mengikuti periode-periode perkembangan tertentu dan mempunyai pola perkembangan serta tempo dan iramanya, yang harus disesuaikan dalam proses pendidikan. Peserta didik memiliki kebutuhan diantaranya kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih sayang, rasa harga diri dan realisasi diri. Peserta didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan yang disebabkan dari faktor endogen fitrah maupun eksogen lingkungan yang meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, minat, dan lingkungan yang mempengaruhinya. Peserta didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia, walaupun terdiri dari banyak segi tetapi merupakan satu kesatuan jiwa raga cipta, rasa, dan Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi pertolongan kepada anak didik, dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial, dan sebagai individu atau pribadi. Dalam hal ini yang termasuk adalah guru, orang dewasa, dan orang tua. Pendidik dalam pendidikan Islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggungjawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Sedangkan yang menyerahkan tanggung jawab dan amanah pendidikan adalah agama, dan wewenang pendidik dilegitimasi oleh agama, sementara yang menerima tanggung jawab dan amanah adalah orang dewasa. Ini berarti bahwa pendidik merupakan sifat yang lekat pada setiap orang karena tanggung jawab atas pendidikan. c. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik interaksi edukatif Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi, isi, metode, serta alat-alat 11 pendidikan. Mengajar merupakan serangkaian interaksi antara orang yang berperanan pendidik dengan anak didik. Untuk mengukur keefektifan guru, seorang pengamat menggunakan seperangkat dimensi yanhg dianggap ada hubungannya dengan keefektifan peranan guru. Guru dinilai “baik” atau “buruk” tergantung pada klasifikasi yag dibuat sesuai dengan skala tertentu. Philip Jackson 1969 menyimpulkan 3 ciri pembeda kehidupan kelas antara lain khalayak ramai, pujian dan kekuasaan. d. Ke arah mana bimbingan ditujukan tujuan pendidikan Tujuan pendidikan tidak semudah menentukan tujuan suatu perjalanan. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa seseorang tidak akan sampai pada suatu tujuan bila ia tidak mengetahui dengan jelas apa itu tujuan atau kemana ia membawa anak didiknya. Tujuan pendidikan sering bersifat sangat umum seperti menjadi manusia yang baik, bertanggung jawab, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mengabdi kepada masyarakat dan sebagainya. Herbert Spencer 1860 menganalisis tujuan pendidikan dalam 5 bagian yaitu Kegiatan demi kelangsungan hidup. Usaha mencari nafkah. Pendidikan anak. Pemeliharaan hubungan dengan masyarakat dan Negara. Penggunaan waktu senggang. Tujuan yang jelas dan spesifik memberi pegangan dan petunjuk tentang metode belajar dan mengajar yang lebih serasi serta memungkinkan penilai proses dan hasil belajar yang lebih teliti. Penyusunan kurikulum telah memperhatikan tujuan pendidikan serta menganalisisnya dalam tujuan yang lebih khusus. Tujuan pendidikan dapat berbeda tingkatannya, ada tujuan yang sangat umum, ada juga tujuan yang khusus. Tujuan yang tampaknya sudah sangat khusus seperti, “sanggup membaca huruf” masih dapat dikhususkan misalnya “sanggup membaca huruf cetak dan huruf tulis, membaca huruf kecil dan huruf besar”. Suatu tujuan harus dikhususkan di tentukan oleh taraf kemampuan dan pengetahuan anak yang akan menerima pelajaran. Tujuan umum biasanya sangat indah dan muluk kedengarannya, tetapi akan menemui kesukaran bila hendak diwujudkan karena menimbulka tafsiran yang aneka ragam. Misalnya tujuan “agar anak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan dalam masyarakat”. Tujuan itu harus jelas, dan tujuan yang jelas ialah tujuan yang spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan diukur. Tujuan akhir pendidikan adalah pembinaan pembelajaran. Dengan demikian menurut Kohnstamm tujuan pendidikan ialah manusia dewasa yang telah memiliki pengetahuan yang akan menjadi sumber tingkah laku perbuatannya yang bernilai kesusialaan dan yang akan dipertanggung jawabkan sendiri. Tujuan umum pendidikan dan pengajaran di Indonesia yaitu membentuk manusia yang cakap serta warga Negara yang demokratis, yang bertanggung jawab atas kesejahteran di masyarakat dan tanah air. 12 e. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan materi pendidikan Salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan keseluruhan adalah kemampuan dan keberhasilan guru merancang materi pembelajaran. Materi pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa materi pembelajaran instructional materials adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran tersebut harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya indikator. Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta didik dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut. Fakta; adalah segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya. Konsep; adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat, inti /isi dan sebagainya. Prinsip; adalah berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Prosedur; merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Sikap atau Nilai; merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya nilai kejujuran, kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar, dan bekerja. f. Cara yang digunakan dalam bimbingan alat dan metode Alat-alat pendidikan adalah segala sesuatu yang membantu terlaksananya pendidikan didalam mencapai tujuannya baik berupa benda atau bukan benda. Alat sebagai perlengkapan ialah alat yang berwujud benda-benda yang nyata atau kongkret yang dipentingkan dalam pelaksanaan pendidikan. Perlengkapan ini antara lain Buku Teks, Ilmu Pengetahuan, Perpustakaan. Salah satu jalan keluar untuk mengatasi kebutuhan terhadap buku baik dari anak yang sedang menuntut ilmu maupun dari siapa saja yang ingin meningkatkan perbendaharaan ilmu pengetahuannya maka perlulah 13 didirikan perpustakaan. Adapun bentuk perpustakaan ada yang bersifat umum perpustakaan umum atau perpustakaan keliling dan ada yang bersifat khusus perpustakaan pribadi, perpustakaan sekolah. g. Tempat dimana peristiwa berlangsung lingkungan pendidikan Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar anak baik berupa benda-benda, peristiwa-peristiwa yang terjadi maupun kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada anak yaitu lingkungan dimana proses pendidikan berlangsung dan lingkungan di mana anak-anak bergaul sehari-harinya. Bila kita teliti mulai dari masyarakat dan kebudayaan yang sederhana, maka lembaga-lembaga pendidikan meliputi Keluarga/Informal Sekolah/Formal Masyarakat/Non Formal C. RANGKUMAN Unsur-unsur pendidikan adalah semua unsur yang harus ada di dalam proses pendidikan, yang kesemuanya merupakan kesatuan integral yang saling mengisi. Unsur-unsur pendidikan meliputi beberapa hal 1. Subjek yang dibimbing peserta didik 2. Orang yang membimbing pendidik 3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik interaksi edukatif 4. Ke arah mana bimbingan ditujukan tujuan pendidikan 5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan materi pendidikan 6. Cara yang digunakan dalam bimbingan alat dan metode 7. Tempat dimana peristiwa berlangsung lingkugan pendidikan Kesemua unsur diatas sangat penting didalam pendidikan. Sebab jika salah satu unsur tidak ada, maka tidak terjadi pendidikan. Setiap unsur tidak dapat di abaikan dalam proses pendidikan karena dari satu unsur ke unsur yang lain memiliki keterkaitan satu sama lain dalam membangun proses belajar yang efektif. Apabila suatu unsur hilang maka unsur lain tidak dapat berjalan dengan baik. Setiap unsur membangun unsur yang lainnya. Seperti bangunan yang kokoh dengan dasar yang kuat. D. LATIHAN SOAL Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan analisis yang jelas dan sistematis ! 1. Apakah yang anda ketahui tentang Unsur-Unsur Pendidikan? Jelaskan ! 2. Jelaskan hakekat dari peserta didik ! 3. Senutkan tujuan pendidikan menurut Herbert Spencer ! 14 BAB III ALIRAN ALIRAN PENDIDIKAN A. PENDAHULUAN Aliran-aliran pendidkan telah dimulai sejak awal hidup manusia karena setiap kelompok manusia selalu dihadapakan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman yunani kuno samapai sekarang. Aliran-aliran itu mewakili berbagai variasi pendapat tentang pendidikan , mulai dari yang pesimis yang memandang bahwa pendidikan kurang bermanfa’at bahkan merusak bakat yang telah dimiliki anak sampai dengan yang optimis yang memandang bahwa anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka terdapat beberapa gagasan yang lebih bersifat satu gerakan dalam pendidikan yang pengaruhnya masih terasa sampai kini, yakni gerakan-gerakan pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajara proyek. Gerakan-gerakan tersebut dapat dikaji untuk memperkuat wawasan dan pengetahuan tentang pengajaran. Seperti telah dikatakan bahwa pengajaran merupakan pilar penting dari kegiatan pendidikan di sekolah, utamanya kalau dilakukan dalam pengajaran yang sekaligus mendidik. B. PENYAJIAN 1. ALIRAN KLASIK a. Aliran Empirisme Aliran empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Tokoh perintis ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke 1704-1932 yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Menurut pandangan empirisme pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Aliran empirisme dipandang berat sebelah sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan, menurut kenyataan dalam kehidupa sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Penganut aliran ini masih tampak pada pendapat-pendapat yang memandang manusia sebagai makhluk pasif dan dapat dimanipulasi, umpama melalui modifikasi tingkah laku. Hal itu tercermin pada 15 pandangan scientific psychology dai Skinner ataupun pandangan behavioral lainnya. Pandangan behavioral ini masih juga bervariasi dalam menentukan faktor apakah yang paling utama dalam proses belajar itu, sebagai berikut 1. Pandangan yang menekankan stimulus rangsangan terhadap prilaku seperti dalam “classical condidtioning” atau “respondent learning 2. Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari sesuatu prilaku seperti dalam “operant conditioning” atau “instrumental learning” 3. Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi seperti dalam “observational learning”, “social learning and imitation”, “participant modelling”,dan “self-efficacy”. b. Aliran Nativisme Aliran nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan, kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Schopenhauer berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir dan wataknya tidak bisa dipengaruhi oleh lingkungan. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Istilah nativisme dari asala kata natie yang artinya adalah terlahir. Terdapat satu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat satu inti pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas. Pandangan-pandangan tersebut tampak anatara lain humanistik psychology dari Carl R. Rogers ataupun pandangan phenomenology/humanistik lainnya. Pengalaman belajar ditentukan oleh “internal frame of refrence” yang dimilikinya. Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenology/humanistik tersebut sebagai berikut 1. Pendekatan aktualisasi diri atau non-direktif client centered dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow. 2. Pendekatan “personal construct” dari George A. Kelly yang menekankan betapa pentingnya memahami hubungan “transaksional” antara manusia dan lingkungannya sebagai bekal awal memahami prilakunya. 3. Pendekatan “Gestalt”, baik yang klasik maupun pengembangan selanjutnya. 4. Pendekatan “search for meaning” dengan aplikasinya sebagai “Logotherapy” dari Viktor Franki yang mengungkapkan betapa 16 pentingnya semangat human spirit untuk mengatasi berbagai tantangan/masalah yang di hadapi c. Aliran Naturalisme Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis Rousseau 1712-1778. Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunya pembawaan buruk. Aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidikan tidak diperlukan. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat artificial sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiyah sejak kelahirannya itu tampak secara spontan dan bebas. Seperti diketahui, gagasan naturalisme yang menolak campur tangan pendidikan, sampai saat ini tidak terbukti malahan terbukti sebaliknya pendidikan makin lama makin diperlukan. d. Aliran Konvergensi Perintis aliran ini adalah William Stern 1871-1939, seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang tanpa adanya lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik pertemuan yakni 1. Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan. 2. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. 3. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan. Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Terdapat Unsurkebudayaan yang dianggap sebagai cultural universal adalah . Berikut yang bukan merupakan unsur kebudayaan adalah . 7 unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah . Daftar Isi sembunyikan. Unsur-Unsur Kebudayaan. 1. Sistem Bahasa. 2. Sistem Pengetahuan dan Pendidikan.Skip to contentInilah pertanyaan unsur unsur pendidikan dan ulasan lain mengenai hal-hal yang masih ada kaitannya dengan pertanyaan unsur unsur pendidikan yang Anda ini tersedia beberapa artikel yang menjelaskan secara lengkap tentang pertanyaan unsur unsur pendidikan. Klik pada judul artikel untuk memulai membaca. Semoga bermanfaat. …mengakses bereneka ragam lingkungan pendidikan secara luas, 2 para siswa tunarungu diharapkan mampu mengakses semua layanan khusus yang diperlukan untuk pertumbuhan pendidikan normal, 3 siswa dan para orang tua diharapkan… …Afrika Sub-Sahara hanya 25 persen atau kurang dari itu yang memperoleh pendidikan serupa. Pemerintah-pemerintah bertujuan untuk menyediakan pendidikan dasar yang dapat diperoleh secara luas. Oleh sebab itu, perempuan muda di… …Pendidikan – Daftar Situs Pendidikan Komputer yang ada di Indonesia. 1. Pendidikan Anak-anak Dunia anak adalah dunia yang paling menyenangkan. Hampir setiap orang tua selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak… …mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi disamping pendidikan keterampilan khusus lainnya. Kelangsungan pendidikan ini diatur oleh pranata social baik pendidikan yang diselenggarakan pemerintah maupun oleh swasta. Karena peranan… – Setiap orang tercipta dengan karakter yang berbeda-beda. Pertanyaan kami disini apakah karakter tersebut dapat dirubah yang tadinya tidak baik menjadi lebih baik? Olehnya itu ada yang disebut dengan… Pendidikan adalah sesuatu yang bersifat fitrah, karena pendidikan adalah kebutuhan essensi yang dibutuhkan oleh menusia di tengah peradaban dari jaman prasejarah hingga jaman modern ini. Sepanjang perkembangan peradaban itu, manusia……identitas atau kebingungan peran yang paling sering ditandai oleh ketidakmampuan untuk memilih karir atau mengejar pendidikan lebih lanjut. Sayangnya, sistem pendidikan menghasilkan elit, tapi pada kali, menghasilkan banyak pecundang juga….Unsur- unsur yang perlu diperhatikan dalam pengembangan Multimedia Pembelajaran keseluruhan isi dalam program secara jelas, seperti dimana dapat melihat panduan, atau bagaimana untuk menjawab pertanyaan, dan sebagainya. Eduprisma adalah sebuah halaman yang menyajikan berbagai informasi mengenai pendidikan dan berbagai fenomena yang
KEWIBAWAAN 8. PERMASALAHAN PENDIDIKAN NASIONAL. 5. UNSUR UNSUR PENDIDIKAN. Unsur-unsur pendidikan adalah semua unsur yang harus ada di dalam proses pendidikan, yang kesemuanya merupakan kesatuan integral yang saling mengisi. 1. Subjek yang dibimbing (Peserta Didik). Peserta didik merupakan subjek didik yang harus dibimbing oleh pendidik.
Postedby Pendidikan Dan Pengajaran on. Unsur-unsur Disiplin dalam Pendidikan. Dengan adanya disiplin diharapkan pendidik mampu mendidik siswa agar berlaku sesuai dengan standart kelompok sosialnya (sekolah), Hurlock EB dalam bukunya "Psikologi Perkembangan", menjelaskan bahwa ada empat unsur dalam membentuk disiplin yaitu : 1.
Setelahsaya melihat film ini saya beranggapan bahwa film Tanda Tanya ini memiliki potensi untuk menggugah hati seluruh penontonnya, dikarenakan film ini memiliki unsur-unsur konflik yang lebar luas dan terkait satu sama lain. Mulai dari Agama, Ras, suku, dan lain-lain. Film ini memiliki nilai-nilai seperti nilai hiburan. Nilai hiburan adalah
.